Silly Moment

What made you smile today? 

Hari ini aku pengen ceritain tentang something stupid that I’ve done. Dulu sempat do something silly, admiring seseorang. :”>

Langsung aja ya, ceritanya si cowok ini adalah junior pas aku kuliah dulu. Sebenarnya gak tau dia junior atau bukan, tapi karena aku lagi sibuk mondar-mandir kampus untuk ngurus transkrip dan semacamnya, si cowok ini masih kuliah. Tampangnya culun. Yang membuatnya menarik bukan sepedanya dengan keranjang di depan yang selalu dia bawa kalau ke kampus, tapi rambut kribonya. Kribo-kribo unyu gitu. And one of my weakness was curly boy. 

Pertama iseng banget merhatiin dia pergi kampus, pulang kampus. Dan entah kenapa, kalau kita suka sama seseorang, serasa semua kejadian yang kebetulan menjadi “takdir”. Kalau bahasa puitisnya, “Alamlah yang mempertemukan kami.” #disambargledek.

Jadi aku sering banget ngeliat dia di kantin, di depan lift, di dekat tangga, lagi ngantri di atm, mau masuk ke wc, lagi ngobrol sama cewek lain, ketawa-ketawa sama cewek lain, pelukan sama cewek lain.
Udah jodoh banget deh kemana-mana. Kalo kata si bodat sih, “karena satu kampus kaleeeee!”

Sampai suatu saat, setelah pemikiran gila-gilaan mendalam dan penuh spiritual, aku bilang sama si bodat kalau aku pengen nanyain namanya. Gaaak,, bukan pengen kenalan, tapi cuma pengen tahu namanya aja. Bodat langsung males, karena menurut dia itu sama aja buang waktu. Kalau mau nanya nama sekalian no hp, facebook, alamat, jodoh! Tapi aku gak mau. Aku tetap cuma pengen tau namanya doank.

Pernah aku ngeliat dia lagi makan bareng teman-temannya. Aku bela-belain duduk di samping meja mereka, sambil memasang antena telinga sepanjang-panjangnya, cuma untuk dengar “nama”nya doank.

Banyak orang bilang, “Apalah artinya sebuah nama.” Sebenarnya sih dari satu nama aja kita bisa tahu account facebook, dan mungkin bisa stalking twitternya. Lalu pdkt, lalu tukaran no hp, lalu ketemuan lagi, lalu jadian. Simple kan.

Well, anyway, hari itu hari terakhir aku di kampus. Hari terakhir sebagai mahasiswa. Intinya kalau ke kampus udah gak ada urusan lagi sama transkrip dan kemungkinan untuk ke kampus sekedar maen-maen udah sangat tipis. Teman-teman juga udah say bye-bye, janjian untuk ketemuan di acara wisuda langsung. Karena terharu biru nya sama suasana “last day”, aku hampir lupa tentang curly boy. Pas jalan mau keluar kampus, aku melihat sepeda-dengan-keranjang-di-depan si Curly Boy lagi di parkiran menunggu sapaan. Langsung celingukan sama bodat, si rambut kribo-kribo lucu itu gak kelihatan. Ntah kesambet jin genit atau apa, 5 detik kemudian, aku langsung sobek buku notesku dan tulis

Aku suka rambut kamu. 

Yes, I was THAT SILLY.

Sampai sekarang, aku gak pernah tahu namanya siapa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s