Blur Moment

Akhir-akhir ini aku banyak kepikiran tentang masa lalu, yang sekarang seperti bayangan-bayangan mimpi.

Benar kata orang, biarkan waktu yang menjawabnya. Beberapa minggu lalu, aku kedatangan tamu terseram sepanjang hidupku. Yah, itulah, binatang itu yang sempat aku ceritakan di post sebelumnya (secara abstrak). Bisa dibayangkan, seminggu setelah binatang itu dengan aman dikeluarkan dan dipastikan dapurku sudah aman, aku tetap saja gak berani ke dapur. Ambil piring, sendok, gelas, nasi, semuanya diambilin. Menyiksa dan orang rumah pun tersiksa dengan memperlakukan ku super manja seperti itu. Dan minggu kedua, aku sudah mulai berani ke dapur (walaupun hanya bagian depannya saja). Semua kejadian sekarang seperti bayangan, seperti mimpi. Tidak begitu nyata lagi adanya.

Aku juga pernah jalan dengan seorang temanku di Malaysia. Baru kenal, baru ketemu dan dia mengajakku makan. Entah dia mau mengajakku “fun fun” atau memang dia orangnya iseng atau orangnya kurang baik, setelah kita makan, kita langsung kabur, alias gak bayar. Karena tempatnya seperti food court, bayarnya biasanya setelah makan, jadi tidak ada yang perhatiin. Kita langsung lari dari food court itu, ke daerah pertokoan dan tertawa terbahak-bahak. Darah adrenalinku mengalir kencang, aku senang sekaligus takut. Tapi itu sekarang seperti mimpi.

Blur Moment

Blur Moment

Aku juga pernah berjalan di suatu perumahan, diterangi lampu kuning jalan dan bulan yang mengikuti setiap langkahku. Langit begitu terang di malam hari, tapi suasana begitu diam. Memang waktu itu lagi malam sekolah. Aku lagi berjalan ke mini market untuk membeli sesuatu. Langkahku sengaja aku buat seringan mungkin, karena ingin menikmati malam dengan dinginnya. Aku sudah kenal daerah itu, karena dulu setiap sore aku melewatinya. Berpegangan tangan, penuh canda, penuh tawa, pernah juga dengan muka kesal. Pas ketika aku melihat ke satu sudut dimana aku selalu menghabiskan waktu untuk bercerita tentang sekolah, cita-cita dan cinta, ada darah yang berdesir di jantungku. Tempat aku dan cinta monyet/cinta pertamaku menghabiskan waktu berdua.

Itu suatu malam, di Doha, 13 tahun lalu. Rasanya udah lama banget, ingatanku pun semakin kabur. Rasanya seperti mimpi. Mimpi kalau aku pernah jalan sendirian di komplek perumahan, pernah hidup di satu tempat dengan berjuta kenangan. Indah memang, kalau diingat sekarang. Kalau dulu kenapa ya perasaannya pengen cepat-cepat berakhir. Padahal kalau kita berusaha menikmati suatu momen, mungkin momen itu tidak akan menjadi bayangan semu seperti sekarang.

In the end, it all feels like a dream to me, and what matter most is, is it all fixed? 

Pic taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s