CS Kota Kecil vs Kota Besar 01

Mau cerita banyak nih tentang “malesnya” tinggal di kota kecil. Contohnya seperti limited fast food chain, limited produk-produk dari luar (misalnya Body Shop, Topshop, Charles & Keith) bahkan di kota ku gak ada, limited mall (hanya 1 di kota ku), dan limited excellent customer service.

Nah, mau ngomong tentang customer service nih. Kenapa kebanyakan kota kecil, pelayanan terhadap konsumen biasanya buruk. Memang tidak semuanya seperti itu, tapi kebanyakan. Dulu pas tinggal di Padang, ada satu toko roti yang pelayannya malesin banget. Mereka tahu bahwa mereka yang terbaik, terlengkap, terenak di kota itu, tapi bukan berarti pelanggan bukan raja. Apalagi pelayanannya buruk, tambah pengetahuan produknya juga buruk. Kalau di kota besar, biasanya toko-toko seperti itu tidak bertahan lama.

Lanjut lagi di kota Lhokseumawe ini. Kebanyakan orang disini memang ramah pada umumnya, tapi kalau urusan layan melayani konsumen, masih banyak yang mengecewakan. Contohnya aja tahun lalu aku sempat ke toko Bata di Harun Square dan si kakak mau cari sepatu kets. Ketika kita nanyain size untuk beberapa sepatu, mbak-mbaknya kayak ogah-ogahan gitu ngelayaninnya. Dia bilang “lihat aja disitu,” “size itu ya? hmm..kayaknya gak ada deh,” (padahal belum dicari, dan kata “kayaknya” itu menunjukkan dia nebak-nebak dan malas nyari). Akhirnya kita keluar dari situ dan belanja di tempat lain, walaupun barang yang dicari gak ada di tempat lain. Tapi daripada di Bata, toh, pelayannya juga gak mau jualan.

Nah, minggu lalu aku ke BCA Lhokseumawe. Bisa dibilang BCA adalah salah satu bank swasta yang terkenal dan terbesar di Indonesia, seharusnya CS / tellernya sudah terprogram untuk melayani nasabah dengan baik. Seharusnya. Tapi beda dengan kenyataannya. Kalau di kota kecil, biasa yang aku dapatin, “lo kenal siapa? lo bakalan dapat pelayanan khusus.” Gitu aja. Simple dan jelas. Tapi nyesekin bagi orang yang seperti aku, yang gak kenal siapa-siapa.

Pas di BCA, aku mau buka rekening. Sengaja datang jam setengah 3, karena lebih enak, udah mulai sepi dan biasanya CS nya jadi lebih fokus ke kita, karena udah sepi antrian. Ternyata beda banget. Walaupun aku termasuk yang kedua terakhir mengantri, mereka malah buru-buru. Aku masih ingat banget, nama CS nya Ovi. Dia ramah, tapi ampun deh, lagi sibuk ngurusin satu nasabah, malah sibuk ngurusin nasabah yang lain. Apa dia sehebat itu sampai harus multitasking nasabah? Bukannya kita harus dapat “VIP” seat ya? Katanya sih, karena udah mepet jadi dia berusaha nyelesain semuanya. Ok. I didn’t complain about that to her. Not yet!

Lalu, setelah selesai buka rekening minggu itu, aku ke BCA lagi minggu depannya, tepatnya hari Selasa. Seharusnya ATM nya sudah jadi dan udah bisa diambil. Di sinilah masalahnya. Ternyata ATM belum dicetak karena kesalahan dari Ovi yang “lupa/salah” memasukkan data. Aku kali ini tidak dilayani Ovi, tapi dilayani Hanum. Dan Ovi yang duduk persis di sebelah Hanum malah ketawa-ketawa, tanpa rasa bersalah. Aku kesal dan bilang tidak mau menunggu, ATM harus keluar hari ini. Akhirnya aku dibuatin rekening baru oleh Hanum, dengan membayar Rp 11.000 lagi (5000 untuk tutup rekening lama, 6000 untuk biaya materai buka rekening baru). Kenapa mereka melakukan itu? Karena, mereka akan membuka rekening baru dengan ATM instan (langsung jadi). Lah, kenapa aku kemarin gak ditawarin ATM instan aja? Aku juga gak perlu punya nama di ATM baru, yang penting kan isinya, bukan nama di ATM nya! Nah, dari awal Ovi tidak menerangkan itu. Dan seingat aku, dia tidak menerangkan apa-apa minggu lalu. Malah langsung membuka rekening dan mengisi formulir. Seharusnya dia bilang minimum setoran, bunga, biaya adm dan lain-lain kan? TIDAK. Dia menganggap aku sudah tahu. Padahal seumur-umur baru kali ini aku buka rekening BCA. Aku gak nanya? Nanya kok, tapi Ovi tetap menjawab sambil menulis formulirku. Kalau di Bank lain, biasanya aku di serahin brosur, diterangin satu per satu tentang syarat & keuntungan untuk menabung di bank itu. Tapi beda, di BCA sini, mungkin karena dia menganggap dirinya sudah besar, jadi semua masyarakat sudah tahu semuanya?

Setelah membuka rekening baru, aku pulang. Besoknya aku ke BCA lagi. Kenapa? Ternyata salah input nama di buku tabunganku dan otomatis pasti salah input nama juga di ATM. Walaupun namanya kurang satu huruf, tapi yang jadi masalah ntar siapa? Ya aku! Karena nama KTP dan ATM berbeda. Setelah ketemu dengan Hanum (btw, kali ini aku dapat pelayanan khusus karena aku sudah KENAL dengan Hanum, jadi tidak perlu mengantri), aku bilang tentang masalah nama itu. Akhirnya dia menggantinya dan ketika ditanya oleh managernya kenapa harus mengganti nama, ternyata terjadi salah input dari OVI. Ovi lagi, Ovi lagi. Dan kemarin Hanum membuka rekening baruku dengan mentransfer semua data dari yang sudah di input oleh Ovi. Jadi ketika dia “multitasking” kemarin, ternyata malah terjadi banyak kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang memang masih bisa dimaafkan ini, menjadi terlalu besar bagiku. Karena aku harus naik angkot untuk bolak balik ke BCA dan aku banyak kerjaan di luar BCA! Siapa yang tidak malas harus bolak balik ke BCA untuk menyelesaikan masalah yang itu-itu aja?

Di awal, aku sempat nanya ke Ovi, selain di kota Lhokseumawe, cabang BCA ada di mana lagi? Ternyata cuma satu. Satu lagi ada di Batuphat (yang lebih jauh lagi kalau dari kota). Oh well, maybe that’s why customer service nya is bad bad bad.

Dan cerita tentang customer service berlanjut di postingan berikutnya.😉

One comment on “CS Kota Kecil vs Kota Besar 01

  1. […] lanjutan dari postingan sebelumnya, tentang customer service di kota kecil seperti Lhokseumawe, kota kelahiranku. Aku gak bermaksud […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s