CS Kota Kecil vs Kota Besar 02

Ini lanjutan dari postingan sebelumnya, tentang customer service di kota kecil seperti Lhokseumawe, kota kelahiranku. Aku gak bermaksud menjelekkan-jelekkan kota kelahiranku, bahkan terlalu banyak kenangan indah di kota ini yang gak bisa aku lepaskan. Tapi pendapat aku tentang “buruknya” pelayanan yang diberikan di berbagai perusahaan/usaha membuat aku geram.

Dan postingan ini murni pendapat, kalau ada yang tidak setuju, ya silahkan saja, mana tau kita bisa bertukar cerita dan pengalaman.๐Ÿ˜‰

Ok, lanjut aja ya. 2 minggu lalu aku sempat ditawarin kerja di salah satu anak perusahaan pusat telekomunikasi terbesar di Indonesia. Sebut saja Perusahaan Z. Nah, aku awalnya ditawarin untuk jadi Admin di bagian Sales. Menurutku sih boleh-boleh saja, aku pikir kalau Admin ya kerjanya gak terlalu berat. Dan aku memang ingin nyari kerjaan yang ringan, supaya bisa sekalian menyusun strategi-strategi untuk bisnis craft Handmade by Zee yang sekarang. Kalau admin kan bisa pulang tepat waktu, gak perlu lembur, kerjaannya cuma ngetik-ngetik dan filing. Gak ada beban. Menurutku sih gitu.

Nah, ketika diwawancara, sebut saja bapak BB, dia menjelaskan tentang kerja menjadi Sales. Aku jadi bingung. Kenapa kok tiba-tiba bisa ke sales? Tapi aku dengarin aja semua yang dia jelasin.ย Lalu di wawancara sama atasan Bapak BB, sebut saja bapak AA, dan dia tawarin aku jadi Sales + Event Coordinator (karena dia tahu aku lulusan EO). Naaaaah lho.. males banget sebenarnya. Itu kerjaan berat semua menurutku. Aku pengen kerjaan yang santai aja, kok malah dikasih kerjaan yang banyak habisin pikiran dan tenaga gitu.

Sebenarnya aku senang banget karena kerjaannya ada menyangkut ke event. Kerja di event itu menyenangkan, fun dan selalu mempunyai tantangan baru. Seru aja! Kerja bisa sampai lupa waktu dan bisa punya ide-ide menarik. Otakku serasa diasah setiap hari dengan pengalaman dan lingkungan yang mengharuskan kita untuk terus kreatif.ย Kalau kata mama, itu kerjaannya aku banget. Karena aku suka dan punya skill dan pengetahuan tentang event dan sales. Jadi sebenarnya gak ada yang salah dengan penawaran bapak AA.

Yang salah hanya gaji nya. Gaji dengan double job desk hanya mendapat UMP (Upah Minimum Propinsi). UMP itu setingkat di bawah UMR dan kalau dibawah UMP adalah UMK (Upah Minimum Kota). Yang ini semuanya dijelasin oleh Bapak AA. Aku kaget, padahal ketika interview aku sangat ‘menjual’ diri, karena itu bidang dan minat aku. Aku pikir kalau gaji nya cocok, mungkin gak masalah kerja berat. Yah, minimal di atas UMR sedikit. Apalagi aku udah membeberkan semua pengalaman dan skill-skill yang aku punya. Dan aku memang sudah diterima, bapak AA dan BB hanya menunggu jawabanku IYA atau TIDAK. Pikiranku tentang perusahaan yang baru satu kali interview dan langsung menerima karyawan, malah menunggu karyawan untuk menerima tawaran kerjanya atau tidak, bukannya tersanjung, tapi malah meragukan perusahaan itu sendiri.

Si Bapak BB menerangkan bahwa loyalitas di perusahaan Z itu sangat tinggi, terbukti dari beberapa karyawan yang mengatakan kalau kerja disini, bakalan “susah keluar” dan ada satu karyawan yang tidak digaji dan sudah bekerja selama bertahun-tahun di situ. Aku bukannya kagum, tapi malah tercengang, kenapa perusahaan bisa setega itu memperlakukan karyawannya? Loyalitas karyawan seharusnya dibayar tinggi. Bukan dianggap sebagai satu kebanggaan tersendiri buat perusahaan apabila ada karyawan yang selama bertahun-tahun tidak dibayar.

Lalu apa hubungannya semua ini dengan customer service? Menurutku, kenapa pelayanan CS bisa semena-mena, apa mungkin karena digaji tidak sesuai dengan kemampuan/apa yang mereka berikan? Karena di kota kecil kadang tidak menilai itu semua, contohnya seperti aku yg diwawancarai kemarin, aku memberikan semua kemampuanku pada saat interview, tapi aku merasa gaji ku tidak sesuai dengan apa yang bakalan aku kerjakan nanti. Nah, kalau di kota besar, mereka akan mempertimbangkan dan mungkin merevisi, karena mencari seseorang di bidang tertentu susah, apalagi kalau yang mempunyai pengalaman dan skill yang cocok.

Nah mungkin di perusahaan Z ada juga yang tidak terlalu menjual dan tidak mempunyai pengalaman dan ditawarin gaji yang sama denganku. Kalau aku berpikir seperti itu, aku pasti akan malas-malasan kerja dan tidak memberikan 110% dari apa yang aku bisa. Karena toh gajinya sama saja dengan yang tidak pengalaman. Di kota ini, saingannya kecil dan tidak begitu berat. Dengan mindset seperti itu, kadang kita tidak perlu menunjukkan skill lebih dan tidak perlu “bersaing” dengan yang lain. Apalagi harus rela “memanjakan” semua customer dengan the best service, the best attitude, mungkin tidak ada yang mau memberikan (bukan tidak bisa).

So, wajar gak sih kalau customer service di kota kecil tidak begitu memuaskan? This is just a thought, feel free to share your own.

Good nite!

Begini kalau kebanyakan mikir.

Begini kalau kebanyakan mikir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s