10 out of 25. I hope I can match all of these signs someday, so that I can call myself a writer. 😉

Thought Catalog

1. You take a pen and paper with you everywhere, sometimes even into bed with you, just in case you have an idea at three in the morning that absolutely must be remembered. That idea never usually ends up good, but like everything you say when you’re stoned, it sounded very good at the time.

2. You really, really want to buy a typewriter, even though you never expect to actually use it. You just want a typewriter because you’re one of the 10 people in the world who still finds them romantic and sexy. All of those people are writers.

3. When you date someone and they say that they majored in “English” or “Poetry,” you’re instantly excited but then exceedingly nervous. Why? Because you’ll eventually be expected to read some of their poetry — something they really love and don’t show to a lot of people — and…

View original post 1,399 more words

My small step = Big responsibility

Ternyata mengurus satu bisnis kecil itu sama melelahkan dengan mengurus bisnis-bisnis yang lain. Dan bukannya gak mungkin malah bisnis kecil ini sering mengalami kebangkrutan karena kurang manage, kurang dana, bahkan kurang pengetahuan. 

Aku baru pertama kali nya mengurus usaha sendiri. Usaha toko kelontong punya mama ku yang udah dibuka dari tahun 90an ini, dulunya sangat terkenal (narsis .red) dan bisa dibilang salah satu toko terlengkap di daerah perumahanku. Dulu, tidak banyak yang buka toko kelontong, jadi saingannya juga tidak banyak, bahkan persaingan yang ada hanya 1 dan toko yang lain belum bisa dibilang toko kelontong. Hanya kedai yang jual minuman dan rokok. 

Sejak pindah ke luar, toko ku pindah tangan ke saudara mama. Mereka fully managed and full responsible of it for their own. Jadi tidak ada campur tangan dari keluargaku dan keluarga juga tidak meminta apapun dari situ. Jadi, bisa dibilang bahwa mama ku sudah lepas tangan. Sampai akhirnya, keluargaku memutuskan untuk pindah kembali ke rumahku ini, kembali mengurus toko dan berpenghasilan dari situ. 

And then it all started to go down. 

Awalnya kedainya di manage dengan saudaraku yang lain. Lalu karena dia akhirnya kelimpungan dengan berbagai tunggakan, akhirnya di manage oleh kakakku. Sekarang kakak udah fully happy menjalankan bisnis barunya @handmadebyzee arts and crafts dan dia juga sudah bingung manage nya, karena mengalami berbagai penghitungan yang kurang tepat. Dan sekarang berpindah ke tanganku. Yes, me! 

Bagaimana caranya? Aku pun bingung. 

Nah, dengan sedikit bermodalkan tampang sok tahu, dan beberapa ilmu management hasil comot sana comot sini, pemikiran-pemikiran sendiri, perhitungan ala kadarnya, modal pinjaman dari Nyonya Besar dan berbagai catatan emosional yang semuanya di tulis dalam beberapa kertas, akhirnya aku beranikan diri untuk take fully control of the business. 

Memang toko kelontong ini awalnya kelihatan menguntungkan dan semua jajanan, produk rumahan dan berbagai kebutuhan rumah tangga sudah tersedia, tinggal di ambil aja (untuk dipakai sendiri). Ternyata lebih banyak ruginya sih daripada untungnya. Lalu kenapa nekat masih jualan? 

Well, yang pertama, penghasilan keluarga masih bergantung dengan toko ini. Penghasilan lain? Mungkin rezeki belum datang dari yang lain. Dan entah kenapa, semua anak mama dan papaku lebih enjoy kerja sendiri, buka usaha. Jadi penghasilan sendiri-sendiri juga belum pasti, masih cukup-cukupan. 

Yang kedua, toko ini bisa dibilang warisan turun temurun dari mamaku, walaupun kembali lagi ke mamaku. Sekarang yang bisa kami (anak-anaknya) lakukan adalah mempertahankannya. Sebisa mungkin. Dengan pengetahuan ekonomi yang ala kadarnya tadi. 

Nah, mungkin beberapa post ke depan, aku akan menceritakan bagaimana aku menjalankan bisnis baru ku ini dan semoga bisa bertahan sampai menjadi toko yang lebih besar lagi! 

Ada yang punya tips atau saran untuk menjalankan bisnis? Please do share! I need guidance too.