Demam…

Dari kemarin aku demam.. Demam korea.. Appaa.. Umma… Oppaa.. Onni.. At least sekarang kalau di rumah udah bisa manggil abang dan kakak pake bahasa korea. mihihi. Padahal beberapa tahun kemarin sempat vacuum dari drama-drama korea ini, karena lagi malas nangis-nangisan, sebel-sebelan, senyum2 sendiri. Trus tahun lalu sempat nonton My Girlfriend is a Gumiho (my most favorite korean drama beside Full House!) dan sukaaaa banget… joh-a,, jeongmal joh-a..

In My Girlfriend is a Gumiho

In My Girlfriend is a Gumiho

Sejak itu jatuh cinta dengan aktornya si Lee Seung Gi Oppa. *droollingeyes*

Continue reading

Advertisements

Ready for Gangnam Style

Such a busy month this March, we’re going to open our store soon for @handmadebyzee and we have a lot to decorate, display and products to sell. Beberapa minggu terakhir penuh dengan jahit, jahit, jahit. BUT I FEEL SO SLEEPY. I think I eat the “Sleeping Monster” and it’s growing inside my body.

Well, saatnya bersemangaaaat! Dua hari lagi aku akan berada di KL mengunjungi si bodat dan akan bernostalGILA lagi, reminiscing our crazy moments, drive to nowhere and just enjoying teh o ice and nasi lemak. On the weekend, we’ll drive through this Music Festival!

976260_599540_Future_Music_Festival_main_image

Future Music Festival Asia 2013

PSY Gangnam

HEEEEYY, SEXY LADY!

Oh yeah, I’m going to dance GANGNAM STYLE too! Even though some of you will say it’s sooooo 2012, and 2013 is Harlem Shake, well, I don’t care. I will do Harlem Shake in his concert!!! I hope I don’t get too hype and forget to take pictures/videos!

Holiday in a holiday moment…?? I’m coooming!!

Facing my Nightmare!

Aku gak bangga untuk bilang ini, tapi aku punya Ophidiophobia. Sekarang sepertinya semakin serius dan menjadi-jadi. Hal yang benar-benar ditakutin udah terjadi. Salah satu hari terburuk bagi seorang Ophidiophobia adalah melihatnya dengan kepala sendiri, di dalam rumah, hanya beberapa meter dari kamu. DI DALAM RUMAH! Dimana menurutku itu adalah tempat yang paling aman selama ini dari gangguan binatang itu. My nightmare is alive!!!

Karena terlalu shock dengan kejadian hari Rabu kemarin, aku jadi ngerepotin satu keluarga. Aku ngeliatnya di dapur, dengan keadaan, ya begitulah. Gak usah terlalu detail juga, takutnya makin kebayang terus gak hilang-hilang. Karena itu, aku jadi takut ke dapur, takut ambil minum, nasi, makan, cuci piring, dsb. Gak tau ini perasaan takutnya sampai kapan. Rasanya susah banget untuk hilangin kejadian itu, udah tercetak dalam pikiran. Setiap mau tutup mata, pasti yang terbayang itu. Susah tidur, susah mau kemana-mana, bawaanya parno terus.

Daaaan selebay-lebaynya aku, dua hari ini nangis gara-gara kejadian itu. Nangis kalau kebayang, nangis kalau mau minta tolong sama Yang Maha Kuasa, nangis kalau lagi pengen hapusin bayangan itu. Terlalu emosional banget. Imajinasi aku terlalu luarrr biasa! Gak bisa berhenti untuk tidak mikirin hal itu.

Kalau kata kakak sih, jangan dibayangin. Gimana enggak dibayangin, kalau setiap tutup mata yang kebayang pasti itu. Kalau kata abang sih, jangan lebih-lebih gitu alias lebay. Lah, kalau bisa sih ya gak bakalan. Buat apa? Nakut-nakutin diri sendiri? 😦

Asli ini aja masih merinding nyeritainnya!! Tapi aku pengen sembuh, pengen hilangin perasaan takut itu, pengen rasa takutnya normal aja. Sewajarnya! Dan semua itu butuh proses. Menurutku ini proses awalnya, untuk pengen sembuh dari perasaan phobia yang berlebihan itu. Semoga bisa hilangin total. Demi orang-orang sekitar dan keluarga tercinta yang udah banyak banget aku repotin. Dan kalau diajak ke kebun binatang kan udah gak umpet-umpetan lagi kalau masuk bagian Reptil! InsyaAllah, doain ya! 🙂

My small step = Big responsibility

Ternyata mengurus satu bisnis kecil itu sama melelahkan dengan mengurus bisnis-bisnis yang lain. Dan bukannya gak mungkin malah bisnis kecil ini sering mengalami kebangkrutan karena kurang manage, kurang dana, bahkan kurang pengetahuan. 

Aku baru pertama kali nya mengurus usaha sendiri. Usaha toko kelontong punya mama ku yang udah dibuka dari tahun 90an ini, dulunya sangat terkenal (narsis .red) dan bisa dibilang salah satu toko terlengkap di daerah perumahanku. Dulu, tidak banyak yang buka toko kelontong, jadi saingannya juga tidak banyak, bahkan persaingan yang ada hanya 1 dan toko yang lain belum bisa dibilang toko kelontong. Hanya kedai yang jual minuman dan rokok. 

Sejak pindah ke luar, toko ku pindah tangan ke saudara mama. Mereka fully managed and full responsible of it for their own. Jadi tidak ada campur tangan dari keluargaku dan keluarga juga tidak meminta apapun dari situ. Jadi, bisa dibilang bahwa mama ku sudah lepas tangan. Sampai akhirnya, keluargaku memutuskan untuk pindah kembali ke rumahku ini, kembali mengurus toko dan berpenghasilan dari situ. 

And then it all started to go down. 

Awalnya kedainya di manage dengan saudaraku yang lain. Lalu karena dia akhirnya kelimpungan dengan berbagai tunggakan, akhirnya di manage oleh kakakku. Sekarang kakak udah fully happy menjalankan bisnis barunya @handmadebyzee arts and crafts dan dia juga sudah bingung manage nya, karena mengalami berbagai penghitungan yang kurang tepat. Dan sekarang berpindah ke tanganku. Yes, me! 

Bagaimana caranya? Aku pun bingung. 

Nah, dengan sedikit bermodalkan tampang sok tahu, dan beberapa ilmu management hasil comot sana comot sini, pemikiran-pemikiran sendiri, perhitungan ala kadarnya, modal pinjaman dari Nyonya Besar dan berbagai catatan emosional yang semuanya di tulis dalam beberapa kertas, akhirnya aku beranikan diri untuk take fully control of the business. 

Memang toko kelontong ini awalnya kelihatan menguntungkan dan semua jajanan, produk rumahan dan berbagai kebutuhan rumah tangga sudah tersedia, tinggal di ambil aja (untuk dipakai sendiri). Ternyata lebih banyak ruginya sih daripada untungnya. Lalu kenapa nekat masih jualan? 

Well, yang pertama, penghasilan keluarga masih bergantung dengan toko ini. Penghasilan lain? Mungkin rezeki belum datang dari yang lain. Dan entah kenapa, semua anak mama dan papaku lebih enjoy kerja sendiri, buka usaha. Jadi penghasilan sendiri-sendiri juga belum pasti, masih cukup-cukupan. 

Yang kedua, toko ini bisa dibilang warisan turun temurun dari mamaku, walaupun kembali lagi ke mamaku. Sekarang yang bisa kami (anak-anaknya) lakukan adalah mempertahankannya. Sebisa mungkin. Dengan pengetahuan ekonomi yang ala kadarnya tadi. 

Nah, mungkin beberapa post ke depan, aku akan menceritakan bagaimana aku menjalankan bisnis baru ku ini dan semoga bisa bertahan sampai menjadi toko yang lebih besar lagi! 

Ada yang punya tips atau saran untuk menjalankan bisnis? Please do share! I need guidance too. 

 

Real social life

Rezeki itu bisa datang dari mana saja, dalam bentuk apa saja, kapan saja. Nikmatilah ia, hingga kamu meyakini diri kamu bahwa semuanya adalah titipan dari Allah. – tweeted at 9.30 am this morning. 

Morning!

Today I put a smile on my face to thank God for everything he has given me. Especially to be living in this neighborhood.

Sejak kecil, aku tinggal di Lhokseumawe, tepatnya di Panggoi ini, semua tetangga ramah. Disinilah aku mengenal kehidupan sosial yang sebenarnya. Dan udah beberapa kali pindah kota, tetap aja yang paling ramah, bersahabat, bertetangga dengan baik cuma yang di Panggoi ini. Beneran deh. Jadi seru aja kalau mau kemana-mana, mau minta tolong, mau nolongin orang, mau seru-seruan bareng, pasti ada tetangga yang berminat. Dan mereka gak mengganggu. Jadi kita juga gak takut bakalan diintip atau ‘dibisik-bisik’ tetangga terus.

Dan akhirnya setelah balik lagi ke kota kelahiranku, dengan rumah yang lama, tetangga yang berbeda, ternyata kehidupan sosialnya masih sama. Tetap menjadi ‘best neighborhood of all time’ (my version).

Beda banget sama di kota lain yang sempat aku tinggalin, mereka malah terkesan cuek tapi sebenarnya ngurusiiiinnn banget semua kegiatan. Kalau diminta tolong nomor sekian, tapi kalau gosip, yah nomor wahid lah. Gosip itu mengganggu banget, karena ada unsur fitnah, dibuat-dibuat yang akhirnya malah gak baik untuk kesehatan. Beneran deh. Hih.

Btw, ini post sebenarnya ucapan terima kasih untuk tetangga-tetanggaku yang super duper baik hati, yang suka mendukung kegiatan-kegiatan anak muda disini, yang suka ke salon kakak, yang mau toleransi apabila kedai tutup, yang turut bersimpatik dalam semua hal dan yang paling terakhir, yang suka ngasih makanan hampir 1 minggu sekali! Alhamdulillah, God Bless this neighborhood. 🙂

My house front view

My house front view 😀